Nyi Kunyil
Diposting oleh Nanang Hanif , Kamis, 20 Mei 2010 19.48
Saat itu aku mungkin masih berumur 6 tahun. Saat pulang dari TK, aku mendengar kabar kalau Nyi Kunyil meninggal. Keluarga pun sibuk mengurusi jenazah Nyi Kunyil. Para tetangga ada yang membuat katil (semacam keranda mayat yang terbuat dari bambu yang dianyam pada bagian tutupnya), sebagian yang lain menyiapkan kain kafan, papan nisan, dan menyiapkan air mandi jenazah lengkap dengan sabun dan wangi-wangian khas.
PEREMPUAN tua itu dilihat dari namanya mungkin agak sedikit aneh. Ia bernama Nyi Kunil namun orang-orang lebih sering menyebutnya Kunyil. Entah apa artinya? Yang kuingat wanita itu bertubuh kurus dan tinggi. Matanya cekung. Berkulit sawo matang atau lebih pantas disebut agak gelap. Tapi konon ia sangat baik ke semua orang terutama kepada kerabat dekat.
Nyi Kunyil senang berkunjung ke rumah kerabat. Dan setiap pergi ke mana-mana tak ketinggalan ia selalu beserta tongkat kayu kesayangannya. Tongkat itu terbuat dari kayu jambu yang permukaannya sangat halus, mungkin karena sering dipegang warnanya pun menjadi hitam mengkilap. Aku yang saat itu masih kecil sering sekali memainkan tongkat Nyi Kunyil. Aku mainkan tongkat itu dan berlagak seperti tukang sihir.
Tapi dari pengakuan ibuku kalau Nyi Kunyil itu punya sifat-sifat yang agak unik. Kata ibuku, salah satu keunikan Nyi Kunyil adalah sering meminum air bekas cuci tangannya sendiri (air yang disediakan dalam kobokan dan disimpan di meja makan). Hiiiy, sekilas memang menjijikkan ya. Tapi, kata ibuku Nyi Kunyil punya maksud tertentu melakukan itu semua. Apa ya maksudnya? Entahlah...
Mengenai asal-usul Nyi Kunyil aku sendiri jelas kurang mengetahuinya. Kalau tidak salah ia adalah bibik dari Eyang Kudi. Eyang Kudi adalah adik dari Eyang Hasan. Eyang Hasan adalah Ayah dari Nenekku. (Bingung kan?) Semoga Anda tidak bingung. Karena lama hidup sendiri dan tak memiliki keturunan maka Nyi Kunyil pun tinggal di rumah Kakek Kudi, Nyi Kunyil sudah dianggap seperti keluarga sendiri.
Konon Nyi Kunyil telah lama ditinggal mati anak dan suaminya. Mereka meninggal karena wabah kolera. Penyakit kolera adalah penyakit yang sangat mematikan. Apalagi, pada saat itu di desa kami sangat sedikit bahkan bisa dikatakan tidak ada tenaga kesehatan sama sekali. Kalau pun ada mantri, itu pun harus pergi ke kota kecamatan. Karena itu saat banyak musibah kolera mengancam desa, Nyi Kunyil harus merelakan anak dan suaminya mati. Ia pun menjadi hidup sendiri tanpa keturunan sama sekali.
Menurut penuturan Ibu, Nyi Kunyil sering datang ke rumah. Ia datang pas jam-jam makan siang kami. Karena sudah terbiasa, kedatangan Nyi Kunyil tak pernah mengganggu, justru membuat ibuku terhibur. Apalagi kalau bukan untuk mendengar dongeng-dongeng Nyi Kunyil. Ia senang mendongeng apa saja. Ada cerita-cerita tentang derita dan susahnya hidup di zaman Jepang, ada juga cerita-cerita mitos tentang penyakit dan kematian. Untuk dua yang terakhir itu Nyi Kunyil sering kali bercerita sambil meneteskan air mata. Terutama jika ia teringat tentang suami dan anak laki-lakinya yang meninggal di waktu bersamaan.
Aku hampir tak bisa membayangkan bagaimana kesedihan Nyi Kunyil saat ditinggalkan orang-orang yang dicintainya. Ia pasti terpukul. Namun, kolera seakan seperti hantu yang menakutkan. Bayangkan, satu dari sepuluh orang meningal di desa kami. Semua bisa terkena wabah kolera. Lingkungan yang kotor bisa dengan mudah menjadi perantara penyebaran penyakit tersebut. Setiap keluarga bisa setiap saat tertular. Dan bayangan kematian hampir selalu melintas kapan saja.
Setiap hari di warung-warung, di surau-surau, orang membicarakan penyakit. Tak terkecuali di keluarga kami saat usai makan malam. Namun Ayah memang tipe orang yang sangat peduli kebersihan. Saat para tetangga sering melakukan tindakan yang tidak sehat, ia tak henti-hentinya menceramahi kami untuk hidup sehat. Yang sering diabaikan misalnya saat harus membuang hajat. Maklum, potret desa miskin memang sudah menjadi wajah desa kami. Bayangkan hampir setiap kepala keluarga, (maaf) kerap membuang kotorannya di sungai-sangai. Karena sungailah satu-satunya ‘toilet’ alam yang disediakan Tuhan di desa kami. Dan banyangkanlah jika musim kemarau tiba dan sungai-sungai kering karena harus mendapat giliran surut. Otomatis, orang-orang desa yang tak berpendidikan itu membuang ampas pencernaan perutnya di mana-mana. Ada yang membuangnya di kebun, di sawah, di selokan-selokan kering. Bisa dibayangkan bagaimana aroma tak beradab itu ‘mampir’ di hidung-hidung kami.
Hidup jorok. Itu harus dihilangkan jauh-jauh dari kamus hidup keluarga kami. Maka, tatkala Nyi Kunyil saja merasa menyesal telah ditinggalkan keluarganya, apalagi dengan kami. Apakah kami juga akan mengalami hal serupa. “Tidak!” kata Ayah. “Kita tak boleh hidup jorok. Kita harus membuat toilet sendiri. Kalau tidak, tunggulah maut datang dengan perantara kolera.”
Tampaknya sedikit pengetahuan tentang kolera yang Ayah punya dapat membantu. Apalagi kalau bukan soal membuat lubang kakus alias septitank di belakang rumah. Itu sudah cukup membuat keluarga kami
Tenang. Setidaknya aman dari bau yang tidak beradab.
Ciawi, 20 Mei 2010
* * *