MASA KECIL, IMAJINASI EMAS
Diposting oleh Nanang Hanif , Minggu, 27 Februari 2011 20.04
Oleh Syerif Nurhakim
Rasanya aku ingin lebih lama menjadi anak kecil. Namun Tuhan memberiku batas waktu untuk menelusuri waktu. Bahwa dunia ini memang memiliki lebih banyak variasi dan berbagai macam kegembiraan. Tidak sekedar bermain-main dalam kegembiraan sempit dan singkat, tapi sebuah penelusuran penting tentang hidup.
Hidup dalam pikiran anak-anak sering kali memberi kesan yang ceria, senang, dan berwarna-warni. Sebenarnya begitu juga dengan pikiran orang dewasa. Pikiran orang dewasa hampir mencakup semua pengalaman masa kecil, kegembiraannya dan mungkin sensasi yang dibangun dalam kedewasaan. Meskipun tingkat kekanak-kanakan dalam diri orang dewasa berbeda masing-masing orang.
Hal inilah yang membuat penulis berpikir, mengapa orang dewasa tidak memaksimalkan sifat-sifat kekanak-kanakannya secara positif untuk sesuatu hal yang lebih bermanfaat. Jika seorang anak kecil memiliki imajinasi emas, maka orang dewasa bisa jadi memiliki kecerdasan imajinasi yang lebih baik, atau bahkan lebih cerdas. Namun sekali lagi seberapa pintarkah orang dewasa membangun semua itu secara adil dan seimbang.
Ini adalah tugas para pembangun jiwa, termasuk penulis yang selalu mendambakan imajinasi masa kecilnya selalu tersimpan baik dalam pikirannya. Seperi sebuah komputer canggih yang dapat merekam dan memanggil semua memori yang tersimpan dalam folder-folder kehidupannya.
Maka, apa yang diperlukan untuk menyimpan semua memori tentang masa kecil itu?
Banyak cara untuk menyimpannya. Ada buku harian, ada foto, ada pernik-pernik mainan masa lalu, atau apa saja medianya asal itu dapat memberikan ingatan yang tajam pada pengalaman kita di masa silam. Dan seorang penulis yang baik ia akan menuliskan sebuah biografi tentang dirinya atau membuat sebuah tulisan panjang tentang apa saja yang terbersit dalam kepalanya. Begitu setiap hari ia lakukan, sehingga ia mampu mengingat apa yang telah terjadi dalam hidupnya. {snh-19-12-2009}
Posting Komentar